Senin, 07 Juni 2010

Pernikahan Muhammad dan Khadijah

Ia adalah Khadijah binti Khuwalid ibnu Asa ibnu Abdil Uzza ibnu Qushay. Persis di Qushay, kakeknya yang keempat nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah. Ibu Khadijah bernama Fatimah binti Zaidah. Nenek Khadijah dari pihak ibu bernama Halah binti Abdi Manaf sendiri adalah kakek ketiga dari Rasulullah. Jadi, dari pihak ayah maupun ibu, Rasulullah dan Khadiajh memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.

Ayah Khadijah, Khuwailid, terkenal sebagai lelaki yang cerdas, kaya, trhormat, berakhlak mulia, jujur, dan terpercaya. Khadijah juga memiliki saudara sepupu bernama Waraqah ibnu Naufal ibnu Asad, salah satu dari empat orang Arab yang menolak penyembahan berhala oleh kaum Quraisy.

Khadijah merupakan bagian dari keluarga yang memilki garis keturunan paling terhormat di suku Quraisy. Keluarganya terkenal dengan akhlak yang mulia dan sikap beragama yang jauh dari perbuatan mengumbar nafsu.

Khadiajh lahir lima belas tahun sebelum Rasulullah. Khadijah mda adalah seoarang gadis cantik dan berprilaku baik.

Suami pertamanya adalah Abu Halah an-Nabbasy ibnu Zurarah at-Taymi. Perikahan ini berakhir ketika Abu Halah wafat meninggalkan dua anak laki-laki, Hindun dan Halah.

Khadijah kemudian menikah lagi dengan Athiq ibnu Aid al-Makhzumi. Dari suaminya yang kedua ini, Khadijah memiliki seorang anak perempuan yang lagi-lagi diberi nama Hindun.

Pada masa jahiliah, Khadijah diberi gelar “wanita yang suci”. Setelah dua kali menikah, banyak laki-laki yang mencoba meminangnya dengan menawarkan sejumlah besar harta sebagai maskawin. Tetapi Khadijah, menolak semua pinangan itu. Perhatiannya difokuskan pada upaya pengasuhan anaknya dan mengelola perdagangan itu.

Suatu hari, Khadijah hendak mengirim kahlifah dagang ke negeri Syam. Ia mencari seseorang yang dapat di utusnya ke Syam untuk mengawasi dan memimpin rombongan dagang tersebut. Saat itu masyarakat sedang ramai membicarakan Muhammad ibnu Abdillah, seorang pemuda yang dapat mejaga kejujuran dan keluhuran budi di tengah rekan-rekan sebayanya yang sibuk berfoya-foya. Khadijah berpikir, mengapa tidak Muhammad saja yang ia utus untuk menangani urusan-urusan perdagangan ke Syam?

Muhammad adalah sosok yang jujur, dan kejujuran sangat penting dalam perdagangan. Tetapi, Khadijah tidak pernah mendengar Muhammad memiliki pengalam berdagang, pilihan itu sebenarnya beresiko, Khadiajh hanyamengandalkan firasat dan naluri yang jarang salah. Akhirnya, Khadijah pun memanggil Muhammad dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan. Muhammad pun menerima tugas itu dengan senang hati.

Setelah menerima tugas dari Khadijah, Muhammad bergegas menuju pamannya, Abu Thalib, untuk menceritakan tawaran kerja yang baru saja diterimanya, Abu Thalib pun turu bergembira. Ia berkata, “ini adalah rezeki yang Allah berikan kepadamu”. Dalam ekspedisi ke Syam Muhammad di bantu oleh Maysarah.

Urusan perdagangan ke Syam ternyata berjalan lancar. Barang-barang habis terjual. Laba yang didapat pun luar biasa besar. Sebelum pulang, kafilah ini membeli barang-barang lain untuk dijual kembali di Mekah.

Maysarah berkata kepada Muhammad “pergilah kepada Khadijah! Laporkan semua apa yang engkau alami dan keuntungan yang engkau peroleh dalam ekspedisi ini”.

Muhammad lalu maju bersama para pemuda lain yang baru saja datang dari perjalana jauh. Para lelaki menyambut kedatangan meraka di jalan-jalan. Para wanita memandangi mereka dari atas rumah.

Saat itu siang hari, Khadijah bersama beberapa wanita lain, berada di sebuah ruangan dibagian atas rumahnya. Ia dapat melihat Muhammad sedang menunggang unta. Ada dua malaikat menaunginya. Betapa agung wibawa yang dipancarkannya. Betapa dari jauh ia begitu indah dan mengesankan.

Sebagaimana tradisi yang dilakukan para pembesar Quraisy selepas pulang dari perajalan dagang, Muhammad pun langsung menuju Ka’bah untuk melakukan thawaf. Setelah itu, barulah ia menghadap Khadijah.

Kepada Khadijah, Muhammad melaporkan semua hal yang dialaminya selama perjalanan, termasuk keuntungan yang diperolehnya dan barang-barang yang di belinya di Syam. Khadijah menerima laporan itu dengan gembira. Apalagi setelah diketahui barang-barang yang di bawa dari Syam berhasil dijua kembali di Mekah dengan keuntungan yang berlipat ganda.

Maysarah juga menghadap Khadiajh dan bercerita tentang hal-hal enah yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Ia seringkali menyaksikan awan berkumpul menaungi Muhammad yang sedang menuggang unta di padang pasir dia siang hari yang panas.

Tutur Maysarah, Muhammad sedang bernaung di bawah sebuah pohon, di dekat tempat pertapaan seorang rahib bernama Nasthura. Sang rahib bertanya kepada Maysarah mengenai Muhammad. Maysarah menjawab bahwa Muhammad adalah seorang pemuda yang mulia dari suku Quraisy. Sang rahib kembali bertanya, apakah ada tanda merah dimatanya? Ya, jawab Maysarah. Rahib itu kembali berkata “Pemuda yang duduk di bawah pohon itu adalah seoarang nabi.”

Pernah pula ada seorang lelaki berselisih dengan Muhammad. Maysarah menduga lelaki itu memang sengaja mencari-cari persoalan. Lelaki itu berkata kepada Muhammad, “bersumpahlah dengan nama Latta dan Uzza!”

Muhammad menolak dan berkata, “Aku tidak piranha bersumpah dengan nama keduanya.”

“Engkau benar”

Lelaki itu pergi begitu saja, tetapi di luar pengetahuan Muhammad, lelaki tadi berkata kepada Maysarah, “orang ini, demi Tuhan, adalah seorang nabi. Para pendata kami telah menerangkan cirri-cirinya berdasarkan apa yang mereka baca dalam kitab suci.”

Khadijah sendiri mengakui bahwa Muhammad adalah pemuda yang nyaris sempurna. Khadijah mulai bertanya-tanya. Perasaan apa yang ada di dalam hatinya. Mengapa ia merasa kagum ketika melihat Muhammad memasuki kota Mekah dengan untanya? Tidak salahkah penglihatannya ketika ia melihat sendiri dua malaikat menaungi Muhammad? Rasa gembira ketika mendengar Muhammad memperoleh keuntungan besar di Syam. Benarkah rasa itu munjul hanya karena kabar keuntungan finansial yang didapatnya? Bagaimana ia menyikapi cerita-cerita aneh yang dikabarkan oleh Maysarah?

Sebenarnya, Khadijah telah mencoba untuk tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi semakin keras ia berusaha untuk melupakannya, semakin sering pikiran-pikiran itu muncul di kepalanya. Dan anehnya, Khadijah merasa bahagia dengan semua itu. Ia bertanya-tanya, apakah pikiran itu lahir dari rasa kagum yang sama seperti apa yang dirasaka oleh orang-orang Quraisy?

Kemudian Khadijah menemui sepupunya, Waraqah ibnu Naufal. Waraqah memeluk Nasrani sejak muda. Ia merupakan seorang yang tekun menyembah tuhan, menjauhi berhala, dan mempelajari kitab-kitab suci agama terdahulu. Mendengar cerita Khadijah, ada rasa bahagia yang aneh dirasakan oleh Waraqah. Ia bangkit lalu berkata bahwa berdasarkan kitab-kitab suci yang pernah di bacanya, Allah akan mengutus seorang rasul terakhir dari anak keturunan Isma’il yang lahir dekat Baitullah.

Perbincangan dengan waraqah menimbulkan kesan yang dalam di hati Khadijah. Ia kembali memikirkan Muhammad, pemuda yang mengagumkan itu. Secara pribadi, Khadijah juga berpikir tentang apa yang menghubungkan dirinya deangan Muhammad. Mengapa bayangan Muhammad selalu muncul siang-malam tanpa ia kehendaki.

Banyak pinangan lelaki yang ditolak oleh Khadijah karena ia berpikir bahwameraka hanya menghendaki harta dan status sosialnya. Tetapi, Muhammad berbeda dengan mereka. Rasa hormat dan cinta kepadanya tumbuh perlahan-lahan hingga akhirnya mencengkeram hati dan perasaan. Apakah ini juga bagian dari Tuhan atas perbuatan baik, sifat kedermawanan, serta keteguhannya menjaga diri dan kehormatan?

Dalam tradisi Arab, seorang hanya boleh menuggu lamaran dari laki-laki. Tetapi Khadijah bukan lagi seorang perawan muda yang tidak berpengalaman, justru ia telah memperkejakan banyak laki-laki untuk menangani urusan-urusan bisninya. Apa salahnya ia memilih sendiri laki-laki yang dapat mendamping dan membahagiakannya?

AKhirnya meski sempat ragu, Khadiajh kemudian memutuskan untuk menikah dengan Muhammad dan mengambil inisiatif untuk meminangnya. Tetapi masih ada satu pertanyaan yang harus ia jawab, siapa yang dapat menjamin bahwa Muhammad akan menerima pinangannya?

Khadijah memilih untuk menggunakan siasat. Ia mengutuskan seoarang wanita yang ia yakini kemampuan dan loyalitasnya untuk diam-diam melakukan pendekatan awal kepada Muhammad. Wanita itu adalah Nafisah binti Umayyah yang masih kerabat dekat Muhammad.

Nafisah menasehati Muhammad, seperti seoarang ibu menasehati anaknya. Ia mencoba meyakinkan Muhammad bahwa pentingnya. Muhammad menjawab bahwa dirinya hanya seoarang miskin yang tidak memilik apa-apa untuk diberiakn kepada wanita yang akan menjadi istrinya. Nafisah membantahnya, menurutnya, kemiskina bukan halangan untuk menikah.

Setelah Muhammad dapat yakin tentang pentingnya menikah, barulha Nafisah menyatakan bahwa wanita yang paling pantas menjadi istrinya adalah Khadijah. Mengetahui pilihan Nafisah, Muhammad pun terkejut. Dari mana ia akan memperoleh harta unutk membayar mahar Khadijah? Nafisah menjawab, kalau Muhammad setuju untuk menikah dengan Khadijah, urusan mahar tidak perlu ia pikirkan.

Upaya pendekatan yang dilakukan Nafisah ini sebenarnya bermakna penting, tidak saja penting bagi KHadijah, tetapi penting bagi sejarah manusia.

Setelah Nafisah memberitahu hasil pendekatannya, Khadijah lalu mengundang Muhammad ke kediamannya. Disana Khadijah secara langsung mengungkapkan pinangannya. Khadijah memperlihatkan bahwa wanita mampu menangani urusan-urusannya sendiri, berhak melakukan apa pun demi mencapai kebahagiaan, serta boleh menerima siapa pun yang pantas menjadi tamunya.

Perkataan Khadiajh saat meminang Muhammad “Wahai anak pamanku, aku berhasrat untuk menikah denganmu atas dasar kekerabatan, kedudukanmua yang mulia, akhlakmu yang baik, integritas moralmu, dan kejujuran perkataanmu.”

Muhammad menerimanya. Hari pernikahan pun tiba. Muhammad didampingi oleh bani Hasyim yang dipimpin oleh Abu Thalib dan Hamzah. Hadir juga bersamaya, bani Mudha, sedangkan Khadijah didampingi oleh bani Asad yang dipimpin oleh Amr ibnu Asad.

Pidato pernikahan disampaikan oleh Abu Thalib. Ia menyampaikan, “segala puji bagi Allah yang telha melahirkan sebagai anak keturunan Ibrahim dan Ismail. Segala puji bagi-Nya yang telah menjadikan kita penjaga rumah-Nya dan pemelihara tanah suci-Nya. Dia yang menjadikan kediaman kita aman dan diziarahi banyak orang. Dia pula yang menjadikan kita berkuasa atas orang-orang. Keponakanku ini, Muhammad ibnu Abdillah, tidak bisa dibandingkan dengan pemuda mana pun, ia pasti mengungguli mereka. Ia memang tidak kaya. Tetapi, bukankah kekayaan akan berubah dan hilang? Dan kalian tahu di dalam keluarga seperti apa Muhammad dilahirkan. Hari ini, Muhammad menikahi Khadijah binti Khuwailid dengan mahar yang seluruhnya menjadi tanggunganku. Ini akan menjadi berita besar dan kehormatan yang agung”

Setelah itu berdirilah Amr ibnu Asad, paman Khadijah dan pemimpin kaumnya. Ia menyampaikan pujian bagi Muhammad dan mengumumkan pernikahannya dengan Khadijah. Dengan itu, resmilah pernikahan keduanya.

Pernikahan itu dilaksanakan setelah 2 bulan 15 hari setelah Muhammad datang dari Syam. Mahar yang di berikan kepada Khadijah adalah 20 ekor unta. Usia Muhammad saat itu adalah 25 tahun, seangkan Khadijah berusia 40 tahun.

Diriwayatkan dari Hakim ibnu Hazm ibnu Khuwalid, keponakan Khadijah, “Rasulullah saw menikah pada usia 25 tahun lebih tau dari pada aku. Ia dilahirkan 15 tahun sebelum Tahun Gajah dan aku dilahirkan 13 tahun sebelum Tahun Gajah.

Yaa Allah jadikan aku seperti Ummi Khadijah, yang memilik kecerdasan dan perilaku mulia, kesetiaan cinta pada Mu.

KHADIJAH Tha True Love Story of Muhammad

0 komentar:

Posting Komentar